Sejarah Vitamin C

review tentang buku berjudul Vitamin C: The Real Story by Steve Hickey, PhD, and Andrew W. Saul, PhD.

Manfaat Arang untuk kesehatan

Arang atau active carbon dengan kemampuannya untuk mengabsorbsi berbagai jenis zat disekitarnya ternyata bermanfaat untuk kesehatan

Bahaya akibat minum Kopi

Kafein ternyata dapat menimbulkan perangsangan terhadap susunan saraf pusat (otak),sistem pernapasan, serta sistem pembuluh darah dan jantung

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 06 Januari 2013

Kematian mendadak, bukan salah olahraganya

Kematian mendadak beberapa pesohor setelah melakukan olahraga menimbulkan kesan kegiatan olahraga berbahaya bagi jantung. Padahal, yang salah bukan olahraganya, tetapi faktor ketidaksiapan si korban.
"Serangan jantung yang berakibat pada kematian mendadak bisa terjadi pada semua cabang olahraga, bukan cuma futsal. Ini karena semua olahraga bisa mengandung bahaya jika pelakunya tidak siap secara fisik dan mental," papar dr.Michael Triangto, Sp.KO, dari klinik Slim n Health Jakarta ini dalam perbincangan dengan Kompas.com, Sabtu (5/2/2011).
Ia menjelaskan, persiapan fisik dan mental yang perlu dimiliki meliputi latihan teratur dan berkesinambungan sehingga jantung menjadi lebih kuat dan dalam jangka panjang menjadi lebih baik.
"Coba diperhatikan, kebanyakan yang jadi korban dari olahraga adalah awam yang punya kesibukan tinggi, tidak pernah memeriksakan kesehatannya, tetapi memaksakan diri untuk aktivitas yang dinyatakan sehat itu sehingga melampui batas," katanya.
Adjie Massaid, aktor dan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, meninggal mendadak Sabtu (5/2/2011) dini hari. Pulang main futsal, ia tersungkur di pintu rumahnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (4/2/2011) malam.
Ia dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati. Nyawanya tak tertolong. Ia meninggal Sabtu pada pukul 01.40. Adjie diduga terkena serangan jantung. Beberapa tahun lalu, seniman Betawi Benyamin S dan pelawak Basuki juga meninggal saat setelah bermain bola.
Michael mengatakan, sebelum melakukan olahraga sebaiknya kita mengetahui kondisi fisik dan mental. "Perhatikan apakah kita selama ini sudah rutin olahraga atau tidak, apa pola makan kita sehat serta hasil pemeriksaan kesehatan kita terakhir seperti apa," tanyanya.
Olahraga yang dilakukan di malam hari, seperti banyak dilakukan masyarakat perkotaan yang sibuk, menurut dr.Michael, juga menimbulkan risiko tersendiri. "Bisa saja pada siang hari kita sudah melakukan aktivitas yang padat sehingga tubuh sebenarnya lelah, tetapi dipaksakan," kata anggota tim kedokteran di pelatnas PBSI ini.
Untuk orang yang sudah berusia 40 tahun, disarankan untuk melakukan check up secara teratur setiap 6 bulan sekali. "Benda-benda saja yang sudah berusia 40 tahun akan mulai rusak, apalagi jantung dan pembuluh darah kita," cetusnya.
Di usia 40 tahun, pada umumnya seseorang masih merasa muda dan memiliki semangat tinggi, tetapi sebenarnya kondisi kesehatannya tidak sekuat sebelumnya. "Di usia ini seseorang juga sedang berada di puncak karier sehingga lupa memeriksakan kesehatannya," katanya.

Berobat di luar negeri, apa hebatnya?

Katanya, berobat di luar negri itu hebat? Entah apanya yang hebat, saya tidak tahu. Habisnya, saya belum pernah ke rumah sakit di sana, dan boleh dikatakan saya tidak pernah sakit, kecuali dulu waktu mahasiswa. Jangankan berobat ke luar negeri, untuk membayar rumah sakit waktu itu saja, saya harus menggadaikan ijazah saya. Dan, waktu itu rasanya berobat ke luar negeri belum ngetren. Tidak seperti sekarang.

Kemudian, hebat, tidak hebat itu, apa sih ukurannya?

Gedungnya yang mewah, alat-alatnya yang canggih, pelayanannya yang luar biasa, diagnosisnya yang akurat, obat-obatnya yang manjur, biayanya yang murah. Atau barangkali, ketika Anda diperkirakan sudah mau meninggal di sini, di Indonesia, atau harapan hidup Anda sudah pendek, dikatakan tidak dapat sembuh lagi di sini, lalu anda berobat ke Singapura atau Malaysia, lantas tidak demikian, Anda tidak jadi meninggal, Anda kemudian dapat berlari lagi?

Berapa orang sih yang sudah  kritis di sini, orang yang dikatakan sudah tidak ada harapan lagi, alias sekarat,  kemudian diterbangkan ke sana, lalu bangun, pulih lagi? Barangkali ada, 1-2 orang pasien.

Apa di rumah sakit di Indonesia, tidak ada kasus seperti itu? 1-2 pasien yang dikatakan sudah tidak ada harapan hidup lagi, hanya dengan pasrah dan berdoa saja juga ada yang pulih kembali.

Ok, untuk melihat hebatnya berobat di luar, sekarang ambil satu aspek saja dulu, alat-alatnya yang canggih, lengkap. Alat yang canggih, lengkap sering dijadikan patokan bagi pasien bahwa suatu rumah sakit itu hebat. Bahkan. gedung yang besar-megah juga dikaitkan dengan itu.  Nah, misalnya Anda menjadi pasien, dengan alat-alat yang canggih itu Anda diperiksa, kemudian Anda merasa puas, senang, bangga karena dengan alat-alat itu penyakit Anda sangat mudah  dipastikan.
Semua alat diagnostik yang modern itu lantas digunakan untuk menyidik kemungkinan penyakit Anda. Dari A samapai Z diperiksa, hasilnya dari A sampai Z juga ada. Ini lah hebatnya di sana, kalau Anda misalnya mengeluh sakit kepala, tengkuk Anda sering berat, anda hanya  menderita hipertensi,  tetapi semuanya akan diperiksa. Urin, darah Anda, apapun yang dapat diperiksa oleh alat yang canggih itu, maka akan diperiksa. EEG, CT Scan, bahkan MRI juga tidak dilupakannya. Lalu,  hasilnya, tumpukan lembaran kertas, file, foto-foto Anda bawa pulang, banyak catatan di situ, ada yang diberi bintang (bintangnya barangkali sama dengan tanda bintang proyek di DPR), artinya bahwa ada yang tidak normal, sesuai dengan standar rata-rata yang berlaku. 

Kenaikan nilai sedikit saja di atas nilai yang dianggap normal, akan diberi bintang. Berdasarkan hasil itu, kemudian Anda akan divonis dengan penyakit ini, itu.  Anda pasti cemas, takut, dan diminta kembali kontrol. Inilah salah satu hebatnya di sana, diagnosis kadang-kadang ditegakkan berdasarkan laboratorium, alat-alat yang canggih aspek lain dilupakan. Dan, penyalahgunaan alat diagnostik yag tidak perlu bukan tidak sering terjadi, tetapi karena Anda di luar, dan barangkali tidak tahu Anda diam saja. Inilah kehebatan lain yang saya lihat.

Lalu,  dalam catatan akhir Medical Record yang Anda bawa pulang pasti juga ada diagnosis. Pada pasien di atas misalnya Hipertensi grade II dengan Cephalgia. Dan, disamping itu Anda akan disarankan kontrol ulang 6 bulan, 4 bulan atau bahkan lebih cepat dari itu. Tidak hanya itu, segepok obat juga akan menemani perjalanan Anda pulang ke Indonesia, tergantung kesepakatan Anda mau kontrol lagi ke sana.   4, 5, 6, 7, bahkan 8 macam obat menjadi sarapan pagi, siang, dan malam Anda sampai 3-6 bulan berikutnya. Bayangkan, berapa kantong obat yang harus Anda beli di sana, seperti tersirat bahwa obat itu tidak ada di sini, atau barangkali lebih mahal, dan mereka seperti juga mereka sangat yakin bahwa obat-obat itu tidak akan bermasalah selama Anda makan obat itu,  sampai 3 bulan atau 6 bulan berikutnya. Itu lah kehebatan lainnya

Satu kasus yang dialami pasien saya ini, mungkin dapat menggambarkan kehebatan itu. Pasien, sebut saja Tuan S bila berobat di tempat saya, Tuan A kalau lagi berobat di Singapura, umur 78 tahun. Tn S ini memang pasien lama dengan diagnosis Diabetes mellitus, dan hipertensi. Tiga hari setelah pulang berobat di Luar Negri. Tn S atau Tn A ini mengeluh badannya terasa tidak enak, kadang-kadang berkeringat dingin, seperti mau pingsan.

"Ini dok, hasil pemeriksaan di sana," ungkapnya sebelum saya periksa sambil mengeluarkan satu persatu lembaran -lembaran hasil laboratorium, foto-foto yang dikerjakan di sana. Terakhir, dari dalam tas yang satu lagi, pasien mengeluarkan obat-obatan, lalu menumpuknya di atas meja periksa saya.

Selintas saya lihat ada ada 8-10 macam obat, obat hipertensi, diabetes, selain dua macam obat Insulin entah obat apalagi. "Woow, banyak sekali obatnya Pak," kata saya setengah bertanya. "Ya dok,  kata pasien, sambil menunjukkan satu persatu obat-obat itu."

Melihat banyaknya  pemeriksaan yang dilakukan, obat yang dibawa pasien, saya tidak tahu berapa kira-kira biaya yang dikeluarkan untuk itu. Oke lah, pemeriksaan yang canggih, obat yang mahal bagi sebagian orang mungkin tidak masalah, apalagi yang berobat ke luar itu kantongnya memang tebal-tebal. Tetapi bagaimana pun pintarnya seorang dokter di luar sana , obat segopok untuk 3-6 bulan itu belum tentu akan cocok dan aman, dan sesuatu yang tidak dikehendaki bisa terjadi. Inilah sisi lain kehebatan berobat di luar.

Lalu, bila Anda mengalami efek samping demikian, Anda akan terbang ke sana atau kalau ada sesuatu kejadian yang dianggap malpraktik, apakah Anda akan menuntut?  Ingat, kasus tuntutan malpraktek cukup tinggi di sana, hanya Anda barangkali tidak tahu, atau tidak berani.

Nah, dari beberapa pengalaman saya dengan pasien-pasien yang pernah konsultasi setelah kembali berobat di sana, dan contoh kasus di atas, maka sering saya bertanya, "Apakah ini yang dikatakan hebat?" Saya tidak menutup mata, pasti ada kelebihan di sana, tetapi bukan berarti tidak ada kekurangan juga. Bahkan, saya melihat, pasien-pasien dari Indonesia sering jadi objek, kalau boleh saya katakan, untuk mencari uang sebanyak-banyaknya.

Kesehatan jantung, kematian mendadak, olahraga, dan tidur

Kita sering kali mendengar kematian mendadak setelah berolah raga. Baik itu sepak bola, bersepeda atau lainnya. Dari gejala-gejala yang digambarkan, dikesankan bahwa serangan jantunglah penyebabnya. Seketika kesehatan jantung menjadi perhatian banyak orang. Dalam tulisan ini saya ingin mengulas bagaimana hubungan antara tidur yang sehat, olah raga dan kesehatan jantung.

Cukup Tidur


Semua orang tahu, bagaimana olahraga amat bermanfaat bagi kesehatan, terutama jantung manusia. Tetapi mengorbankan tidur demi berolah raga tidaklah bijak. Bagi para atlet, tidur amatlah penting untuk meningkatkan prestasi. Ini dikonfirmasi oleh berbagai data penelitian yang menunjukkan bahwa atlet dengan tidur yang cukup lebih berprestasi dibanding yang tidak.

Kini, jumlah tidur yang cukup, dikaitkan dengan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Laporan dari Harvard Heart Letter Januari 2007 menghubungkan antara kekurangan tidur dengan tekanan darah tinggi, atherosklerosis, payah jantung, serangan jantung dan stroke, hingga diabetes dan obesitas. Diduga kondisi kurang tidur akan meningkatkan kadar zat-zat inflamasi yang pada akhirnya menyebabkan penyakit-penyakit kronis tersebut.

Baru-baru ini, para peneliti dari the University of Warwick menyatakan bahwa jika kita tidur kurang dari enam jam sehari, kita akan mempunyai risiko 48 persen lebih besar untuk menderita atau meninggal akibat penyakit jantung, dan kemungkinan 15 persen lebih untuk menderita atau meninggal akibat stroke. Penelitian yang diterbitkan dalam European Heart Journal terbitan 8 Februari 2011 juga mengungkapkan fakta gaya hidup tidur larut malam dan bangun sepagi bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan kita.

Dalam tulisannya, para peneliti menerangkan bahwa jumlah tidur yang pendek dalam waktu lama, akan menghasilkan beberapa zat yang nantinya menjadi risiko bagi berkembangnya tekanan darah tinggi, peningkatan kolesterol, diabetes, obesitas, hingga penyakit jantung dan stroke.

Hal senada diungkap dalan jurnal SLEEP 1 Agustus 2010. Para peneliti dari West Virginia University School of Medicine menyatakan bahwa jumlah tidur ideal bagi kesehatan jantung adalah 7 jam sehari. Penelitian ini mengikuti kebiasaan tidur 30.000 orang dewasa. Mereka menemukan bahwa tidur kurang maupun berlebih akan meningkatkan risiko penyakit jantung. Mereka yang tidur kurang dari 5 jam mempunyai risiko dua kali lipat untuk menderita penyakit jantung, sementara yang tidur lebih dari 9 jam perhari berisiko satu setengah kali lipat.

Sleep Apnea


Yang unik, tidur lebih dari 7 jam pun menunjukkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Walau para peneliti menyatakan tidak mengetahui penyebabnya secara pasti, diduga gangguan tidur yang menyebabkan kantuk berlebih menjadi penyebabnya. Jadi bukan kelebihan tidur, tetapi kantuk berlebihan yang perlu diperhatikan.

Sleep apnea atau henti nafas tidur, merupakan gangguan pernafasan saat tidur yang ditandai dengan ngorok, mendengkur dan kantuk berlebihan, hipersomnia. Penderitanya mudah dikenali dari penampilannya yang selalu mengantuk. Apalagi ketika tertidur, kita dengan mudah mendengar deru dengkuran. Ketika tidur, saluran nafas penderita sleep apnea akan melemas hingga menyempit dan pada akhirnya menyumbat.

Akibatnya, walau gerakan nafas tetap ada, udara tidak dapat lewat. Karena sesak, penderitanya akan terbangun-bangun sepanjang malam, tanpa sadar. Tak heran jika orang yang mendengkur bangun dengan rasa tak segar dan terus mengantuk tanpa tahu sebabnya. Berhentinya nafas saat tidur, menyebabkan jantung bekerja keras, bahkan ekstra keras. Ini ditunjukkan dalam pemeriksaan tidur pendengkur yang juga meliputi perekaman jantung, dimana irama jantung jadi tak beraturan. Kesimpulannya, ngorok berakibat buruk bagi kesehatan jantung.

Dalam panduan yang dikeluarkan oleh Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure, sleep apnea sudah dinyatakan sebagai salah satu penyebab utama hipertensi. Selanjutnya Heart Failure Society of America di tahun 2006 mengeluarkan panduan yang didalamnya juga menyertakan pemeriksaan akan risiko sleep apnea dalam tata laksana penyakit jantung.

Olah Raga dan Tidur
Olah raga saja sepertinya tidak cukup bagi kesehatan jantung. Tidur yang sehat, cukup dan tidak mendengkur ternyata jauh lebih penting. Selama ini kita ketahui bahwa pendengkur adalah orang-orang yang gemuk. Tetapi ternyata banyak juga atlet dengan proporsi tubuh yang baik, juga menderita sleep apnea.

Kematian para atlet di usia 40-an menjadi perhatian. Di Amerika beberapa pensiunan atlet NFL diduga menderita sleep apnea. Reggie White meninggal secara mendadak di tahun 2004 pada usia 43 tahun, dan sleep apnea diduga berperan. Di Inggris kematian mendadak seorang atlet saat mengikuti triathlon juga mengagetkan khalayak.

Tom Zehmisch, berbeda dengan para atlet NFL yang berbadan besar, sebenarnya berperawakan langsing dengan penampilan. Ia berusia 46 tahun ketika meninggal akibat serangan jantung saat bersepeda dalam sebuah lomba triathlon. Tom dilaporkan tidur mendengkur, salah satu tanda dari sleep apnea. Sleep apnea pada atlet atau penggemar olah raga menjadi amat penting. Bayangkan saat terjaga dan berolah raga, jantung bekerja keras. Kemudian saat tidur, jantung malah bekerja semakin keras lagi akibat henti nafas. Jantung tak pernah beristirahat.

Penanganan sleep apnea diawali dengan pemeriksaan tidur di laboratorium tidur menggunakan alat bernama polisomnografi. Dari pemeriksaan ini akan didapatkan diagnosa sleep apnea, serta derajat dan karakter henti nafas yang dialami. Di samping itu, kondisi dan fungsi jantung selama tidur pun akan terlihat.

Berangkat dari hasil diagnosa kita akan dapat memilih perawatan yang tepat bagi setiap pasien. Pilihan utama perawatan adalah dengan menggunakan CPAP (continuous positive airway pressure). Alternatif lain adalah dengan jalan pembedahan atau penggunaan dental appliances.

Beberapa contoh pengguna CPAP yang populer adalah peserta the Biggest Looser Sherry Johnston dan Sean Algaier, serta atlet NFL lainnya Percy Harvin. Kepada stasiun TV NBC, ia mengungkapkan bahwa ia didiagnosa oleh dokter menderita sleep apnea yang diduga telah menyebabkan migren parah yang telah membuatnya sering kali absen dari latihan.

Setelah jatuh pingsan di salah satu sesi latihan, ia segera dilarikan ke rumah sakit. Para dokter yang melihatnya sering mengalami henti nafas segera melakukan pemeriksaan tidur. Sejak itu ia pulang dengan membawa alat kecil untuk menemani tidurnya. Kini ia tidur dengan sehat, tanpa mendengkur, apalagi henti nafas. Dan ia pun meneruskan karir atletnya dengan gemilang.

****

Kematian akibat serangan jantung selalu datang tiba-tiba. Kita sebagai manusia, harus bisa menjaga dan merawat kesehatan jantung. Untuk itu, saya selalu mengingat pesan dari Prof. William Dement, bapak kedokteran tidur: Untuk mencapai kesehatan yang optimal kita membutuhkan tiga faktor utama,  kebugaran fisik, nutrisi yang seimbang dan TIDUR yang sehat.